Bagaimana Celah Setan Masuk ke Dalam Hati Kita
KULIAH SUBUH MESJID RAYA PULO ASEM
SABTU 1 AGUSTUS 2026
Ustd Wahid Rahman
BAGAIMANA CELAH SETAN MASUK KE DALAM HATI KITA
Talbis, Wurur dan Taziyyin
Seyogyanya orang2 beriman itu hidupnya tenang dan lapang dan penuh kedamaian, dan mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
Allaziina aamanuu wa tathma-innu quluubuhum bizikrillaah, alaa bizikrillaahi tathma-innul-quluub
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْۤا اِيْمَا نَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْاَ مْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
Allaziina aamanuu wa lam yalbisuuu iimaanahum bizhulmin ulaaa-ika lahumul-amnu wa hum muhtaduun
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 82)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّا ۗ لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ
ulaaa-ika humul-mu-minuuna haqqoo, lahum darojaatun ‘ingda robbihim wa maghfirotuw wa rizqung kariim
“Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 4)
Tapi diantara kita masih merasa tidak tenang, tidak nyaman, gelisah . Banyak umat Islam terjangkit 2 penyakit hati :
Yang Pertama Penyakit Al Hazn , suka meratap mengenai kejadian buruk yang terjadi di masa lalu dan hari ini, seperti penyelesalan dgn kata 2 Seandainya Saya tidak begini dan begitu. Padahal semua kejadian itu adalah takdir dr Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَاۤ اَصَا بَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَ رْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْـرَاَ هَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ
Maaa ashooba mim mushiibating fil-ardhi wa laa fiii angfusikum illaa fii kitaabim ming qobli an nabro-ahaa, inna zaalika ‘alallohi yasiir
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 22)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لِّـكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَا تَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمْ ۗ وَا للّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَا لٍ فَخُوْرِ
likai laa ta-sau ‘alaa maa faatakum wa laa tafrohuu bimaaa aataakum, wallohu laa yuhibbu kulla mukhtaaling fakhuur
“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 23)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ النَّا سَ شَيْـئًا وَّلٰـكِنَّ النَّا سَ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
Innalloha laa yazhlimun-naasa syai-aw wa laakinnan-naasa angfusahum yazhlimuun
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri.”
(QS. Yunus 10: Ayat 44)
Ukurlah semua takdir itu menurut ketentuan dari Allah bukan diukur dr kepentingan kita. Allah tidak pernah bersifat Zalim terhadap makhluknya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَا لُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
kutiba ‘alaikumul-qitaalu wa huwa kur-hul lakum, wa ‘asaaa ang takrohuu syai-aw wa huwa khoirul lakum, wa ‘asaaa ang tuhibbuu syai-aw wa huwa syarrul lakum, wallohu ya’lamu wa angtum laa ta’lamuun
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)
Karena itu JANGAN PERNAH MERATAP kejadian masa lampau, itu adalah Takdir dan CUKUP menjadi pelajaran kita di masa datang. Sebagai pelurus hidup kita
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَاۤ اَصَا بَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
maaa ashooba mim mushiibatin illaa bi-iznillaah, wa may yu-mim billaahi yahdi qolbah, wallohu bikulli syai-in ‘aliim
“Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 11)
Musibah yang menerpa diri kita dan membuat kita lebih dekat kepada Allah , JAUH LEBIH BAIK daripada nikmat yang membuat engkau Jauh dr Allah.
Seandainya seorang Hamba tidak pernah ditimpa musibah, maka hamba itu akan diterpa penyakit sombong, ujub , zolim dan hatinya keras.
Hadits : Jika engkau ditimpa satu musibah janganlah engkau pernah berkata Seandainya saya tidak lakukan ini dan itu , tapi katakanlah Qadarullah, karena kata2 seandainya itu membuka peluang Setan.
Penyakit Al Halm , penyakit was was , khawatir dan takut dengan masa depan akan dirinya dan anak2nya.
Besi itu hancur karena karatnya sendiri, dan manusia itu hancur karena pikirannya sendiri.
Allah itu bersama prasangka makhluknya. Allah sudah memberikan jaminan :
Semua makhluk melata dijamin rezekinya oleh Allah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Wa maa ming daaabbating fil-ardhi illaa ‘alallohi rizquhaa wa ya’lamu mustaqorrohaa wa mustauda’ahaa, kullung fii kitaabim mubiin
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”
(QS. Hud 11: Ayat 6)
Jika kita mau berusaha , maka Allah menjamin rezeki kita darinya. Seperti Siti Hajar berlari2 mencari air utk nabi Ismail.
Yang Membuat Hamba Tidak Tenang, dan Tidak Percaya Diri akan keberhasilan di Dunia :
Pertama Kedurhakaan Pada Orang Tua, Tidak ada dosa yang Allah segerakan balasannya di dunia dan disimpan di Akhirat. PERTAMA, Durhaka kepada Orang Tua. Tetapi kebalikan dr itu ,jika ia berbakti :
Hadits : Barangsiapa berbakti kepada orangtua maka keberuntungan baginya, sebaliknya kedurhakaan akan disegerakan di dunia
Muhammad Ibnu Al Munkabir : saya bermalam di rumah ibuku, dan yang dilakukan olehku adalah memijat2 kaki ibuku sepanjang malam dan saudaraku Umar menghabiskan malamnya dengan sholat malam, hal itu tidak membuatku bahagia, aku tidak mau ditukar dengan amalan saudaraku.
Ibnu Abbas, ketika ditanya oleh Attoha : Wahai Ibnu Abbas kenapa engkau tanya Ibunya masih hidup atau tidak ? ( kisah anak muda yg berkata ia sdh membunuh perempuan yg menolak lamaran dan memilih orang lain, apakah ia bisa taubat atau tidak) Jawab Ibnu Abbas Sungguh aku tidak mengetahui satu perbuatan melebihi bakti kepada Ibu .
Kisah Abu Bakar bin Ays bersahabat dengan Mansur ibn Al Muktamir, kata Abu Bakar bin Ayas, terkadang aku duduk dirumah Mansur Ibn Al Muktamir , tiba2 Ibunya memangil dengan cara berteriak, dan Ibunya Mansur sangat keras, WAHAI Mansur , Aba Khuairah , pemimpin di saat itu ingin Mansur jadi Hakim, Mengapa Kau Tolak !!! Mansur menjawab ia meletakan dagunya ke dadanya (menunduk) sekejab mata saja beliau tidak mengangkat kepalanya.
Hadits : Kaya itu bukan karena harta tapi karena HATI.
Nikmat bahagia dan tenang ,terletak dari CARA bagaimana kita menerimanya dan bersyukur.
Hadits Qudsi : Dekatkan dan luangkan waktu untuk beribadah kepadaKu maka akan Aku penuhi Hatimu dengan rasa cukup dan akan Aku tutupi dari kekurangan.
Kisah 3 orang , Imam Abu Hanifah, Ibunya dan Abdul Jabar. Kata Ibnu Jabar , dulu ada Ustadz bernama Zurroah, dan Ibunya Abu Hanifah ingin minta nasihat kepadanya, dan ia bercerita hal tsb kepada Abu Hanifah mengenai apa yang akan ditanyakannya. Lalu dijelaskan oleh Abu Hanifah jawabannya, tapi Ibundanya tidak terima dengan apa yg disampaikan oleb Abu Hanifah, kata Ibunya, Saya tidak menerima Fatwa dr siapapun kecuali dr Zurroah,. Lalu Abu Hanifah mrngajak Ibundanya kr Zurroah , dan ditemui nya Zurroah dan mengatakan hal2 yg ingin ditsnyakan kepadanya. Zurroah menjawab Engkau lebih paham hal itu, lalu dijelaskan hal2 yg sdh dijawab oleh Abu Hanifah ke Ibunya. Lalu Zurroah menemui Ibunda Abu Hanifah dan mengulangi semua jawaban persis seperti yg didampaikan oleh Abu Hanifah, Dan Ibunda Abu Hanifah menerima fatwa tersebut.
Pesan Rasulullab kepada Abu Darda, Rasulullah berpesan Taatilah orangtuamu sekalipun ia meminta seluruh hartamu .
Hal2 yang membuat kita tidak nyaman dan tidak percaya diri
- Durhaka kepada orang tua
- Sholat tidak berkualitas
- Jauh dari Al Quran
- Tidak menerima Takdir yang Allah Tentukan
- Senang bergaul duduk dengan orang2 buruh akhlak dan buruk ibadah.
